Lalu dapat dibenarkankah prilakumu?, dengan tidak menceritakan dan menyajikan diri seolah baik baik saja tapi dalam diam meramu masalalu seolah olah mengabaikan yang mengusahakan untuk ada. Lalu dapat dibenarkankah prilakumu?, dengan mengedepankan emosimu lalu berargumen "jika tak tahan denganku berati bukan yang terbaik bagiku" Lalu dapat dibenerkankah prilakumu, yang berprilaku seolah biasa saja tapi menghancurkan apa yang sedang diusahakan? Lalu apa posisiku dalam hidupmu?Lalu apa kendaliku pada dirimu? Tidakkah dirimu melihat ku yang berdiri, mengusahakan menjadi seorang kaka, teman dan pendamping bagimu? Berjalan semaumu, menglubat luka yang dilakukan kedua kalinya. Sampai hatikah dirimu melakukan itu? Benarkah apa yang sudah engkau lakukan itu? Tidak puaskah dengan segala hal yang aku usahakan? Pernahkah kamu memikirkan kemungkinan buruk yang terjadi setelah itu? Aku telah selesai dengan masa laluku, aku telah selesai juga dengan diriku., segala hal ku sajikan hanya unt...
Cakrawala tak bertiang membuat hati bertanya tanya, bagaimana caranya ia sekuat itu tanpa sandaran, duduk termenung melihat jatuhnya dedaunan yang beriringan dengan hembusan angin, spora jamur yang dikerubungi hewan yang berterbangan. Diganggu oleh gemuruh pertanyaan mau sampai kapan engkau duduk di sini, langit mulai gelap dan tidak ada siapa siapa disini. Tak terasa menetes air mata melihat diri sendiri pada bayangan air yang tenang. Hati berucap “hancur sekali rasanya” banyak Bahagia yang tersita, banyak tawa yang tertahan, dan banyak luka yang terbentuk atas sayatan. Benar benar tidak ada hari lagi, aku hanya berharap ada hewan liar yang memangsaku. Sambil menunggu hal itu, aku pejamkan mata dengan waktu yang cukup lama, tapi ternyata tidak terjadi apa apa. 21.15WIB kiranya kaki ini mulai beranjak pulang dari kegelapan. Tidak seperti biasanya, ku kendarai motorku dengan kecepatan 100KM perjam ku lepaskan semua rasa kesal dan emosi pada perjalanan, sepanjang itu aku hanya terf...