Wates, 27 Juni 2022
3 Hari Menanam Makna
Aku
hijau namun dapat menguning serta merah membara
ini
tentang rasa, saat diri ini menanam makna di atas meja.
Hampir
saja aku melewatkannya, mengundurkan diri dari acara di karnakan kondisi hati
dan fisik yang sedang tidak baik.
Aku
si manusia sombong,
Pada 1 hari sebelum acara dimulai,
ada seorang wanita yang bertanya “Apa kekuranganmu?” aku jawab dengan spontan “Aku memiliki kepribadian yang
sombong”, wanita itu menyusul jawabanku dengan pertanyaan lagi “apa penyelesaian dari kekurangan yang kamu
miliki”
aku
jawab sesuai dengan apa yang sudah aku lakukan “bertahun tahun sudah aku coba untuk menghilangkan ini, tapi tidak
bisa., aku menunggu waktu dimana aku dipertemukan dengan orang sombong di atas ku,
hingga aku sendiri membenci sifat itu” wanita itu tersenyum dan meng –
Aamiinkan perkataan ku.
Sebelum
acara di mulai beberapa rasa penolakan untuk mengikuti acara membrontak dalam
hati, mungkin ini yang menjadikan diri ku sakit, karna hati dan fikiran berdebat
selama 3 hari.
Hari pertama
Benar saja, di hari
pertama sakit ku kambuh, aku buru buru keluar ruangan untuk membeli obat untuk
menghilangkan rasa nyeri sakit itu, setelah itu aku kembali., hal tak terduga
tejadi, saat aku sedang sarapan untuk mengisi perutku,
Di sebelah ku ada
seseorang dengan tajam menatap mataku, dari gesture dan fluktuatif nada yang ia
munculkan memudahkan aku membaca karakternya., sebut saja si Abstrak Koleris,
cara bicaranya kadang memiliki arah dan kadang tidak berarah yang membuat diriku mengatakan
bahwa dia tipe orang yang abstrak, fluktuatif nada dan caranya mempertahankan
pendapat yang membuat aku salut dengannya ini memperkuat diriku bahwa dia
memiliki karakter koleris
ya… sifat kerasnya
hampir sama denganku, umurnya bertaut jauh 2 tahun dari ku.
Pada saatnya aku
kembali keruangan untuk mengikuti serangkaian acara dan tak di sangka orang
yang aku temui tadi yang ku sebut si Abstrak Koleris ada di dalam ruangan,
Aku kira dia hanya tamu
undangan ternyata dia adalah salah satu peserta acara juga. Baru saja hatiku
terdiam saat mengatakan (“eh.. ada si
Abstrak”) tapi dia membuat aku berbicara lagi dalam hati tentangnya saat
dia mengkonsolidasi sebuah narasi yang di sampaikan salah satu materi dengan
arah bicara dia yang sangat Abstrak.
Selesailah acara
pembukaan, semua peserta siap siap untuk berpindah tempat ke daerah yang akan
menjadi pusat kegiatan. Sepanjang perjalanan aku hanya bisa bersandar menahan
rasa sakit yang sedikit nyeri, tiba tiba (tingtung)
Notifikasi pesan singkat dari umi “Dek..
Umi sakit” buru buru aku balas untuk menanyakan bagaimana keadaanya
mengingat kondisi sebelumnya umiku habis pendarahan, tapi apa daya daerah yang
menjadi pusat kegiatan minim jaringan profit yang aku gunakan, tentu ini menjadi
beban pikiranku selama kegiatan,
Tibalah pada tempat
kegiatan, melihat pesan yang aku kirim ke umiku tak kunjung terkirim membuat
sedikit kesal hatiku,ditambah pengumuman panitia kegiatan yang mengatakan “Cepat berkumpul di depan, handphone harus
di kumpulkan” setelah itu hilang semua focus ku dalam berkegiatan, kepalaku
sudah terfikir yang tidak tidak tentang kondisi umiku,
Berkali kali aku diam,
menangis dan beristighfar untuk menenangkan pikiranku.,
Hmm.. hari pertama yang menyesakkan ☺
Hari Kedua
Semua peserta
dibangunkan untuk melaksanakan sholat tahajud bersama, kesempatan terindah
bagiku menangis dan bercerita sejadi jadinya pada sang maha kuasa, kekhawatiran
ku pada umi ku sangat menggebu gebu, doa yang selalu ku penjatkan beriringan
dengan tetesan air mata yang mengharukan. Beberapa orang melihatku sebagai
pribadi yang ceria padahal didalamnya ada hati dan fikiran yang porak poranda
Duduk di pelataran
dengan kondisi hati sedih yang tak berkesudahan membuat waktu terasa singkat
hingga fajar membentangkan sinar duha di Alaska., suara bernadakan aga sedikit
menyentak terdengar jelas di telinga “Kepada
seluruh peserta di harap berbaris di depan karna kali ini kita akan melakukan
perjalanan” dengan mata yang aga sedikit sembab aku melakukan perjalanan.
Garongan panjatan.,
suasana yang asri membuatku sedikit iri (hmm..
seandaynya daerahku seperti ini) ku perhatikan satu satu bagaimana kondisi
rumah disana, memiliki halaman rumah yang bersih dan jarang sekali ada sampah
di depannya.,
dengan jarak pintu ke
pintu antara rumah yang sangat berjauhan membuat pikiran ku sedikit berfikir (apakah mereka hidup bersosial ? apakah
mereka berkomunikasi dengan tetangganya ? ko pagi pagi sepi ya.. di daerah ku
biasanya ramai dengan ibu ibu yang berkrumun di pinggir jalan menunggu tukang
sayur jajakan) begitulah pikir ku pagi itu,
sambil berjalan
perlahan dengan langkah kecil ku hirup udara secara dalam, setelah ku hempaskan
aku baru sadar dulu ada seseorang yang ingin mengusir ku dari tanahnya karna
kesombongan ku, sambil tersenyum aku bergumam dalam hati (xixix hari ini ku injak-injak tanah kelahirannya, sebuah rasa ingin
berteriak, Heyy….. lihat aku datang dan menginjak injak tanahmu di akhiri
dengan tawaan hinaan di depan wajahnya :v) begitulah jahatnya halu ku pagi
itu,
tak terasa berhentilah kami
di tempat yang menjadi tujuan batas perjalanan, ya.. hanya sebuah sungai yang
bisa dibilang lumayan besar. Aku berdiri di pinggirnya sambil kunikmati energy positif
yang berada di sekelilingku
Ada satu pikiran yang mengganggu kala itu, hari itu aku sadar aku dibenci karna kerasnya sifatku tapi kali ini bukan hanya aku yang menginjakan diri di tanah itu, aku di temani dengan orang yang hampir sama sifatnya dengan ku, aku bertanya berkali kali kepada hati “akankah dia mengusirnya juga dan membenci ?akankah dia menceritakan kepada ibunya jikalau ada manusia keras hadir di sekitarnya ?”
Hmm… sepertinya tidak,
ini karna memang sifat ku saja yang kurang ramah.
Kegiatanpun berjalan
sebagaimana mestinya
diskusi diiringi dengan
peraduan argument terus di glorakan, si abstrak berkali kali mencoba memancing
ku untuk berbicara., kondisi tubuhku yang tidak vit serta suasana desa panjatan yang sejak awal aku datang seolah olah menekan dan memberi pelajaran atas
kesombongan kesombongan yang pernah aku lakukan, ini lah yang membuatku membisu.
pada satu kesempatan
aku mendapat bagian untuk satu kelompok dengan si abstrak, hmm…. Sebagai orang yang keras dan berjiwa kompetisi justru saat itu
aku merasa kalah dan tidak menjadi dominasi.
Aku terlalu menunjukan
gesture yang tidak nyaman saat itu sampai sampai salah satu teman sekelasku bertanya
seolah olah memberi faham “kenapa mam…”
aku jawab dengan spontan “gpp gemes ajah
nih sama si abstrak” di lanjutkan olehnya dengan narasi yang aga sedikit
mengece “kenapa? kamu gasuka ya? Ya..
begitulah, kamu liat dia itu kaya diriku liat kamu mam” sejak saat itu aku
berpikir sungguh daerah ini di sakralkan bagi manusia seperti diriku.
Setiap kali aku ingin
mendominasi, jiwa ku terasa terbabat habis, nafas terasa berat serta kepala yang
semakin panas hal itu aku rasakan saat setiap kali aku ingin menyanggah
argument lawan.
Sejak hari itu aku
mengerti tentang apa yang aku dapat berdasarkan apa yang aku tanam dan sejak saat
itu aku membenci salah satu sifat sombong yan berada dalam diriku.
Hari Ketiga
Hari ini adalah hari
terakhir aku menginjakan kaki di tanah panjatan,
rasa senang atasnya aku
di ajarkan makna dari sebuah penilaian dan rasa sedih karnanya aku belum bisa
memberi apa apa untuk tanah yang mengajarkan salah satu bagian kehidupan.,
hari
ini adalah moment yang aku tunggu, dimana pada hari ini alat komunikasi
dikembalikan,
jeritan rindu akan kabar sosok seorang ibu akhirnya ku dapatkan.
Tak
banyak yang bisa aku ungkapkan
Sekali
lagi terimakasih desa panjatan
Jika kemarin kita terpatahkan, tak
mengapa..
Karna itu salah satu cara allah
mendewasakan.
Memang
berat terkadang harus diam dan merenung seolah mati bak kematian yang jauh
sebelum waktu kematiannya
Hari
ini aku meringkik terdiam, berbicara dan melihat diri sendiri seolah membagi
satu raga menjadi dua sukma
“Lihatlah
kedalam dua bola matanya. Kedua bola mata yang memiliki tatapan kosong, tatapan
yang jelas memperlihatkan tidak adanya keinginan untuk hidup.
Nafas
yang berat, tubuh yang meringkik tak bisa lagi di tegakan. Dia telah mati di
dalam raga yang hidup. Dia terjebak di dalamnya, tak mampu berteriak meminta
bantuan.
Jika
kaelak dia tiada, jangan terlalu terkejut. Karna ia telah mati jauh sebelum
waktu kematiannya”

Komentar
Posting Komentar