Cakrawala tak bertiang membuat hati bertanya tanya, bagaimana caranya ia sekuat itu tanpa sandaran, duduk termenung melihat jatuhnya dedaunan yang beriringan dengan hembusan angin, spora jamur yang dikerubungi hewan yang berterbangan. Diganggu oleh gemuruh pertanyaan mau sampai kapan engkau duduk di sini, langit mulai gelap dan tidak ada siapa siapa disini.
Tak terasa
menetes air mata melihat diri sendiri pada bayangan air yang tenang. Hati berucap
“hancur sekali rasanya” banyak Bahagia yang tersita, banyak tawa yang tertahan,
dan banyak luka yang terbentuk atas sayatan.
Benar benar
tidak ada hari lagi, aku hanya berharap ada hewan liar yang memangsaku. Sambil menunggu
hal itu, aku pejamkan mata dengan waktu yang cukup lama, tapi ternyata tidak
terjadi apa apa.
21.15WIB kiranya kaki
ini mulai beranjak pulang dari kegelapan. Tidak seperti biasanya, ku kendarai
motorku dengan kecepatan 100KM perjam ku lepaskan semua rasa kesal dan emosi
pada perjalanan, sepanjang itu aku hanya terfikirkan tentang bagaimana caranya
agar tidak beremu dengan hari esok.
Sesampainya
dikamar ternyata belum selesai juga dengan diriku, menangis sejadi jadinya. Nyaris
saja melakukan yang tidak.
Apa salahku? Sebesar itukah
masalahnya? Tidak ada kah jalan untuk memperbaiki semuanya? Atau sengaja engkau
membiarkan aku hidup tanpa hari?
Aku yakin engkau
pun tau dan bisa menyadari dimana titik salahku dan titik salahmu, aku yang
keras dengan segala narasi dan ekspresi sedang dirimu yang belum lapang
terhadap keadaan.
Selama ini
aku merasa terabaikan saat mengusahakan hadir dibelakang mu, aku yang selalu
berharap kamu menoleh kebelakang untuk bisa menggandengku agar berada disampingmu
hanyalah kahayalan. Aku sadar aku bukanlah orang yang berarti apa apa bagimu
sedang kamu adalah orang luar biasa dimataku.
Apa kamu
tau rasanya berjuang tanpa dihargai? Apa kamu tau rasanya bagaiaman mengusahakan
berkesan sedang dihatimu sudah dipenuhi memory orang lain? Semua itu begitu
sakit.. sangat sakit..
Aku sadar
selama ini aku hanya terhanyut pada impian dan angan kosongku. Terimakasih,
izinkan aku berbicara pada tuhanmu agar ia bisa memberikan kebahagian selalu
pada dirimu, aku terlalu erat memeluk mu dengan do’a. bukan kamu yang salah
tapi aku yang selalu berharap.
Aku terlalu
Lelah mengejarmu, rasa rasanya setinggi tingginya hati untuk mengejar harapan
dan cintamu masih lebih tinggi kenyataan yang harus aku terima. Bahwa kamu akan
tetap selamanya menyalahkanku, kamu memang indah tapi sepertinya bukan milikku.
Kini aku hanya bisa mendoakaan mu.
Komentar
Posting Komentar