Langsung ke konten utama

Aneh namun benar adanya


 

Yogyakarta, 23 September 2021

Bismillahirrahmanirrahim

Pada paragraf ini aku akan bercerita tentang aku dan hatiku.

Tepat pada ± satu minggu yang lalu aku memijakkan kaki di kota istimewa ini, ya… aku memijakkan kaki di kota ini untuk melanjutkan pendidikan sekolah tinggi, rasa sedih, keluh dan kesah masih aku rasakan, bagaimana tidak…  pada bulan inilah aku harus meninggalkan segalanya, Orang tuaku, temanku, bisnis yang baru saja aku bangun dan kebiasaan lainya yang rutin aku kerjakan.

Kini aku harus meninggalkan itu semua dan harus membiasakan diri dengan apa yang aku temui. Berat rasanya… kini yang kuingat hanya pelukan dan bisikan umi ku dan saudara saudaraku saat keberangkatan ku.

            Umi, sambil memeluk dia berbisik kepadaku “dek… yang betah ya disana. Jangan panjang tangan, harus jadi orang yang ringan tangan, dede belajar yang bener disana jangan mikirin umi disini ya.”  (pelukan dan bisikan campur air mata kala itu yang sangat aku ingat)

            Sebelum melakukan pemberangkatan aku memeluk saudara saudaraku aku titipkan umi pada adik adikku dan kakaku, aku memeluk erat kakak ku. penuh isakan tangis, kaku berbisik “de…. Hati hati disana” ya… tak banyak yang ia bicarakan kepadaku, air mata dan ingusnya menempel di pundak ku, sambil menangis aku bilang kepada kakak ku “A… Aa punya tanggung jawab yang besar ke adik adik, imam nitip umi dan adik adik ya… jangan sekali kali berlaku kasar”

Berbeda dengan pelukan yang dilakukan abiku kala itu, ya mungkin karna ia seorang Bapak yang menyembunyikan kesedihannya, terlihat dari matanya yang berkaca kaca, dan genggaman tanganya yang begitu dingin, sambil memeluk dan meremas pundak ku dia berkata “yang bener belajarnya.. kamu laki laki jangan cengeng” sebuah bisikan yang menguatkan dari seorang Bapak kepada anaknya. Kini aku dituntut untuk menjalankan itu semua sendiri.

            Namun ada hal yang membuatku aku kuat,  dirasa itu sangat aneh namun benar benar terjadi pada diriku, terhitung 4 Bulan sebelum keberangkatan ku ada nomor asing yang menghubungiku. Dia memperkenalkan dirinya dan social medianya waktu itu, aku rasa dia orang baik dan juga faham akan agama. Tanpa melihat siapa dirinya dan bagaimana karakternya, aku mengaguminya dalam diam.

Wanita inilah yang membuat aku kuat, mungkin hanya ada 1000:1 Wanita seperti ini, Entah aku yang berlebihan dalam menilainya atau bagaimana, tapi begitulah faktanya.

Hati ini bertanya Tanya akan sebuah rasa.

Bagaimana bisa aku mengagumi seseorang yang tidak pernah aku lihat? Jangankan wajahnya, fotonya pun tidak, ini sangat di luar kendali dan nalar ku.

    Pada sebuah kesempatan aku yakin ini sudah menjadi ketentuan. Allah tunjukan kepadaku, disebutlah namanya untuk mendapat sebuah penghargaan, aku masih ingat malam itu, sebuah bentuk isyarat sapa yang sangat ramah kepadaku, senyumnya dibalik masker yang menutupinya tak membuatku berhenti mengindahkannya. Senyum tulus itu membuat matanya menyipit yang memberi aku faham akan senyumannya yang tertutup.

Sedikit ekspetasi ku tentangnya terjawab pelan pelan oleh penghargaan yang diraihnya.

Malam itu aku memberanikan diri memberi ucapan selamat atas penghargaan yang diraihnya, melalui chat whatsapp, dia berterimakasih kepadaku. Dan ternyata dari percakapan whatsapp itu aku faham bukan hanya aku yang merasakan berat dalam menjalankan kehidupan berasrama, ternyata dirinyapun merasa tertatih tatih dalam menjalankan kehidupan baru di asrama.

Dia pernah memintaku untuk membimbingnya dan memintaku untuk tidak sungkan mengajaknya berdiskusi, waktu itu aku meng-iyakan, namun dalam perjalanannya aku tidak mau memulai diskusi denganya, melihat dirinya yang paham akan syar’i, membuatku menjaga batasan denganya dalam berkomunikasi. ya... aku menjadikanya berbeda dengan yang lainya, bukan karna apa, mungkin karna sebuah reaksi rasa yang ada dalam diriku yang membuat aku canggung setiap bertemu.

Rasa kagum ini aku pendam dalam diam, doaku sehat selalu untuknya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Maaf

Wates, 08 Juli 2022 Maaf Kali ini aku hanya ingin meminta maaf Aku minta maaf Jika selama menjaga, aku tak mampu membuat mu bahagia Aku minta maaf jika kurang ku selalu membuatmu marah Aku minta maaf jika ulah ku selalu membuat hatimu sakit Aku minta maaf jika aku hanya memberimu kecewa Dan aku minta maaf jika aku tak bisa memberi apa yang kau mau Aku hanya ingin kau tau segala hal yang engkau tidak sukai dariku,  aku selalu mencoba merubahnya agar kau bisa menerimanya Aku selalu mencoba untuk berubah, setidaknya rasa sakitmu sedikit berkurang Tapi aku selalu gagal, mawar selalu membuatmu terkesima, merahnya membuatmu jatuh cinta. Aku menghabiskan waktuku hanya untuk membuatmu terkesan, bukan menjadi mahkota tapi menjelma duri yang menggores luka tak tertahankan Maafkan aku